saya sedih. mungkin juga kecewa.
ada apa?
yah memang saya selalu sedih dan kecewa setiap ada perubahan.
saya tahu betul tentang itu. lalu?
aahh tapi kali ini sungguh signifikan. saya benci dengan diri saya sendiri yang dengan angkuhnya selalu mengutuk paham awam-isme.
saya tidak pernah suka perubahan dan tidak mau berubah, apalagi hanya karena keadaan. kecuali perubahan itu bersifat alami, itu hal yang berbeda.
ooh coba saya tebak? lagu lama?
seperti itulah. dia sungguh berbeda, seperti mempunyai identitas yang berbeda. bahkan, bahasa yang dahulu selalu ia banggakan bersama sahabatnya tidak pernah sedikitpun keluar dari bibirnya.
menurut saya perubahan itu bagian ter-simple dari survival kit yang dilakukan oleh manusia untuk terus bertahan.
iya saya tahu itu. saya hanya terus bertanya mengapa perubahan itu selalu ada masanya?
mungkin juga begitu, tapi yang saya tahu perubahan itu akan selalu terjadi.
lalu apakah pertemanan juga ada masanya seperti musim? dan berubah sesuai keadaan dan lingkungan? kalau memang begitu, saya jadi takut untuk berteman.
wah payah juga..
iya memang sungguh payah.
*Expectation Quotient